<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Marnaek Rumahorbo</title>
	<atom:link href="http://marnaek.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://marnaek.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 28 Jul 2009 17:53:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='marnaek.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Marnaek Rumahorbo</title>
		<link>http://marnaek.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://marnaek.wordpress.com/osd.xml" title="Marnaek Rumahorbo" />
	<atom:link rel='hub' href='http://marnaek.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>SALIB DAN PENDERITAAN ALLAH</title>
		<link>http://marnaek.wordpress.com/2009/07/29/salib-dan-penderitaan-allah/</link>
		<comments>http://marnaek.wordpress.com/2009/07/29/salib-dan-penderitaan-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jul 2009 17:53:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marnaek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wordpress/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[SALIB DAN PENDERITAAN ALLAH Andreas A. Yewangoe I. Topik yang Tidak Mudah Ketika kita berbicara tentang salib dan penderitaan Allah, sesungguhnya kita memasuki suatu medan pembahasan teologi yang tidak mudah, kendati tidak baru. Inti pertanyaan adalah, benarkah ada hubungan antara salib dan penderitaan Allah? Kalau hubungan itu ada, bagaimana kita memahaminya di atas medan sejarah? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marnaek.wordpress.com&amp;blog=2534102&amp;post=15&amp;subd=marnaek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SALIB DAN PENDERITAAN ALLAH</p>
<p>Andreas A. Yewangoe</p>
<p>I. Topik yang Tidak Mudah</p>
<p>Ketika kita berbicara tentang salib dan penderitaan Allah, sesungguhnya kita memasuki suatu medan pembahasan teologi yang tidak mudah, kendati tidak baru. Inti pertanyaan adalah, benarkah ada hubungan antara salib dan penderitaan Allah? Kalau hubungan itu ada, bagaimana kita memahaminya di atas medan sejarah?</p>
<p>II. Salib</p>
<p>Berbicara tentang salib, tentu saja kita berbicara tentang alat untuk menghukum seseorang, setidak-tidaknya dalam cara yang dipakai oleh orang-orang Romawi pada waktu itu. Ada bermacam-macam salib. Bukan hanya orang Romawi yang mengenal tatacara hukuman memakai salib. Tetapi di era Yesus, kelihatannya orang Romawilah yang mempraktekkan itu secara luas. Sederhananya salib adalah dua potong kayu yang disilangkan, yang satu lebih panjang dari yang lainnya. Yang panjang ditegakkan di tanah setelah si terhukum dipakukan dan atau diikat di atas salib. Biasanya si terhukum baru meninggal dua atau tiga hari kemudian setelah mengalami penderitaan yang sangat hebat. Jauh sebelum Yesus disalibkan, telah sekian banyak orang yang disalibkan. Demikian juga sesudah era Yesus.(Warganegara Roma dikecualikan dari cara hukuman ini. Mereka biasanya dipancung, sebagaimana dialami rasul Paulus yang menyandang kewarganegaraan tersebut). Tetapi mengapa justru salib Yesus begitu penting, sehingga bahkan menjadi simbol kekristenan di kemudian hari? Ini didasarkan atas keyakinan bahwa di dalam peristiwa salib itulah Allah mendamaikan dirinya dengan manusia. Sebelum kita menguraikan ini lebih jauh ada baiknya dicatat, bahwa di dalam perjalanan sejarahnya, salib telah mengalami ambivalensi makna. Salib sekaligus menjadi tanda kehinaan dan keagungan sekaligus. Salib merupakan tanda ketaklukan, tetapi juga penaklukan. Salib menjadi sesuatu yang sakral dan sekaligus mengalami desakralisasi. Salib sekaligus dibenci dan dikasihi.<br />
Untuk menjelaskan hal ini, saya mengemukakan peristiwa penting di Tanah Air dalam tahun-tahun 1990an ketika berbagai kerusuhan bernuansa agama sangat marak, yaitu peristiwa Tasikmalaya dan Kupang. Di Tasikmalaya, beberapa gedung gereja dibakar sebagai �lanjutan� dari beberapa peristiwa sebelumnya di Sidotopo, Situbondo, Rengasdengklok, dan seterusnya. Ketika gereja Kristus di Ketapang (Jakarta) dirusak dan dibakar oleh kelompok-kelompok tertentu (katanya kaum �preman�), maka pada tahun yang sama sejumlah mesjid juga dibakar di Kupang. Pada waktu itu semua milik orang Bugis yang beragama Islam dibakar. Tetapi dengan membubuhkan tanda salib ke atas harta milik mereka (seperti kios), maka harta milik mereka diselamatkan. Secara singkat dapat dikatakan, bahwa salib telah menjadi tanda �keselamatan�. Tetapi tidak demikian halnya di Tasikmalaya. Di sana, justru salib menjadi tanda kebinasaan. Semua yang berbau salib dimusnahkan.<br />
Dalam pengalaman orang-orang Indian di Amerika Latin, orang-orang Spanyol dengan memegang salib telah memusnahkan kebudayaan mereka. Salib yang tadinya adalah tanda kerendahan hati telah berubah menjadi simbol penaklukan terhadap penduduk yang waktu itu dianggap tidak beradab. Salib-salib baru diciptakan atas nama Salib. Trauma ini masih terus menghantui kehidupan penduduk Indian di Amerika Latin sampai sekarang.</p>
<p>III. Teologi Salib</p>
<p>Istilah atau terminologi Teologi Salib (Theologia Crucis) untuk pertama kali dipakai oleh Luther, yaitu suatu refleksi teologis terhadap makna salib. Theologia Crucis dipertentangkan Luther dengan Theologia Gloriae, yang memandang pengetahuan tentang Allah dapat dicapai dengan akal, tanpa membutuhkan bantuan sedikitpun. Pandangan ini (theologia gloriae) dipengaruhi oleh skolastisisme abad-abad pertengahan. Sedangkan Theologia Crucis justru berpandangan bahwa pengetahuan itu dicapai melalui salib Yesus Kristus. Bagi Luther hanya iman saja yang sungguh-sungguh dapat memahami karya sejati (opus proprium) Allah pada kayu salib, yang kelihatannya sebagai karya asing (opus alieanum) dari Allah yang tersembunyi (Deus absconditus). Melalui iman itu kita dapat melihat bahwa yang terjadi pada salib justru merupakan pembenaran terhadap orang berdosa. Orang berdosa dijadikan benar ketika Allah menjalani jalan kehinaan, jalan salib.<br />
Seorang teolog Jerman abad XX bernama Juergen Moltmann menegaskan kembali pemahaman Luther ini dengan menekankan bahwa iman Kristen berdiri dan jatuh dengan pemahaman akan Kristus yang tersalib, dengan pemahaman akan Allah di dalam Kristus yang tersalib, atau dengan mempergunakan kata-kata Luther, dengan pengetahuan akan �Allah yang tersalib�.<br />
Apa artinya ini? Ini berarti bahwa kendati salib merupakan kehinaan dalam pemahaman dunia (Ingat kalimat: �Celakalah dia yang tergantung di atas salib!�), namun telah merupakan kekuatan Allah. Rasul Paulus menegaskan itu di dalam suratnya yang ditujukan kepada jemaat Korintus, 1 Kor. 1: 18, �Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.� Rasul Paulus memperkembangkan pemahaman mengenai pembenaran oleh iman dalam arah yang sangat kritis menghadapi faham pembenaran oleh hukum Taurat, sebagaimana ditegaskan dalam Rm. 1:17: �Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: �Orang benar akan hidup oleh iman��.<br />
Salib, dengan demikian merupakan, bukan sekadar simbol, melainkan �jalan� bagi terciptanya relasi baru antara manusia dengan Allah, pendamaian sejati dicapai. Makna rekonsiliasi, yang berasal dari istilah Latin, re-conciliare, mengacu kepada menjadikan kembali satu, sesuatu yang tadinya pecah. Relasi Allah dan manusia yang dirusak oleh dosa, dengan demikian kembali dipulihkan.</p>
<p>IV. Allah yang Menderita?</p>
<p>Dari apa yang dikemukakan tentang pandangan Luther maupun Moltmann, kita mendapat kesan bahwa di dalam salib (Kristus) kita melihat Allah yang menderita. Pemahaman ini tidak mudah diterima begitu saja. Lama sekali di dalam teologi Kristen dianut pendapat bahwa Allah tidak mungkin menderita, sebab kalau tidak Ia bukan lagi Allah. Ia adalah To on, yang tidak bergerak, yang tidak terharu (a patheia), dan seterusnya. Dalam bahasa Latin dipakai istilah Impassibilitas Dei. Tetapi pandangan itu lalu memperoleh bantahan dari berbagai pihak. Allah yang tidak mampu menderita, juga berarti tidak mampu mengasihi. Penderitaan adalah pula ekspresi dari mengasihi. Ini juga berarti, Allah tidak peduli (apatisme). Kita telah melihat akibat dari pandangan ini, dalam berbagai peristiwa dunia seperti holocaust di Jerman dalam PD II dan Perang Vietnam.<br />
Dalam pandangan sebaliknya, yang dikenal sebagai patripassianisme ditegaskan, bahwa jikalau Kristus adalah Allah, maka Ia mestinya diidentikkan dengan Sang Bapa, dan jikalau Ia identik dengan Sang Bapa, maka, karena Kristus menderita, Sang Bapa juga menderita. Tertulianus (abad ke 2) menegaskan, �Anak menderita, maka Sang Bapa juga ikut menderita (patitur, compatitur).<br />
Tentu tidak mudah juga bagi kita sekarang untuk memverifikasi benarkah Allah ikut menderita atau tidak. Namun setidak-tidaknya, berdasarkan iman kita mengamini bahwa sesungguhnya demikianlah yang terjadi. Kita bercermin kepada Yesus Kristus, yang sungguh-sungguh secara intens mengalami penderitaan itu.</p>
<p>V. Makna Sosial Penderitaan Allah</p>
<p>Kendati tidak dapat diverifikasi apakah Allah benar-benar menderita, kita bisa �memahaminya� dalam kehidupan sosial. Telah banyak orang melakukan perenungan mengenai penderitaan Allah ini. Kita tidak akan menguraikan semuanya di sini. Di Asia, Kazoh Kitamori menulis buku berjudul, Theology of the Pain of God. Ia malah melihat penderitaan Allah sebagai hakekat Allah, bukan sekadar rasa empati. Sebagai seorang pendeta Lutheran ia dipengaruhi Luther. Dengan menjelaskan Yeremia 31:20 dan Yesaya 63:15 di mana ditemukan kata-kata �Hati-Ku terharu� dan �kasih sayang�, Kitamori menegaskan bahwa di dalamnya tersirat penderitaan dan kasih. Allah bergumul di dalam diri-Nya. Allah yang harus menghukum manusia bergumul dengan Allah yang mengasihi yang adalah Dirinya sendiri. (Di sini Kitamori mengutip Luther, �da strydet Gott mit Gott�), Allah sesungguhnya menaklukkan diri-Nya sendiri bagi kepentingan manusia. Inilah penderitaan Allah, kata Kitamori yang konkretisasinya di dalam sejarah terjadi di Golgota. Maka bagi Kitamori, peristiwa salib, di mana Anak Allah mati, bukanlah sesuatu peristiwa yang terjadi di luar Allah. Pada salib Allah mematikan diri-Nya sendiri dan dengan demikian menyelesaikan masalah kematian kita sendiri.<br />
Tentu saja Kitamori dikritik karena drama penderitaan Allah ini �hanya� terjadi di dalam batin Allah sendiri. Tetap merupakan persoalan, bagaimana penderitaan itu dilihat, difahami bahkan dialami di atas ranah sejarah. Dalam sebuah novel yang ditulis oleh Elie Wiesel berjudul Nacht, ia mencoba memahami Allah yang menderita di pentas sejarah ini. Wiesel adalah seorang dari sedikit orang yang luput dari holocaust Hitler. Ia menyaksikan demikian banyak penderitaan dan kematian di dapur pembakaran Auschwitz. Pada suatu hari ia harus menyaksikan pelaksanaan hukuman gantung yang dijatuhkan kepada tiga orang yang dianggap penjahat oleh rezim Nazi. Dua orang, karena badan mereka besar dengan segera meninggal. Seorang anak kecil yang badannya kurus tetap tergantung di sana, dan susah meninggal. Maka lalu ada seorang berbisik di belakangnya: �Di manakah Allah?� Sejurus kemudian, ia mendengar suara lain: �Itu Allah sedang tergantung di atas tali gantungan.� Bagi Elie Wiesel, drama penderitaan Allah sungguh-sungguh konkret. Drama itu terjadi di atas panggung sejarah, bukan hanya di dalam batin Allah. Dengan mengambil bahagian di dalam penderitaan mereka, Allah membuktikan bahwa Ia �mampu� menderita dan mengasihi.<br />
Tentu saja tetap sulit bagi kita bagaimana memverifikasi itu. Namun demikian, kita dapat �menilai�nya dari berbagai perubahan sikap gereja-gereja di Eropa terhadap orang Yahudi. Teologi mereka juga berubah (Theologie Na Auschwitz.) Teologi yang tadinya meletakkan tuduhan kepada orang Yahudi sebagai pembunuh Kristus, sekarang berubah. Barangkali keberpihakan Barat terhadap Israel sekarang tidak dapat dilepaskan dari keyakinan bahwa Allah telah ikut menderita di dalam penderitaan umat-Nya. Sayang sekali Israel sekarang tidak melihat penderitaan Allah di dalam wajah orang-orang Palestina dewasa ini yang mendambakan juga sebuah tanah air yang merdeka.<br />
Moltmann mencatat sekian banyak hal yang merupakan muara dari penderitaan Allah di dalam kehidupan sosial-politik manusia. Ia bertanya, apakah makna pemutakhiran (the contemporization) Allah yang menderita di dalam kehidupan beragama masyarakat? Di dalam dimensi-dimensi manakah suatu masyarakat manusia berkembang di dalam iklim yang bebas dari sejarah Allah ini? Apakah konsekwensi-konsekwensi ekonomi, sosial dan politik dari Injil tentang Anak Manusia yang disalibkan sebagai �pemberontak�?<br />
Semua pertanyaan-pertanyaan ini agaknya baik untuk direnungkan dengan mempertimbangkan kenyataan konkret masyarakat kita sendiri di Indonesia dewasa ini. Di dalam kehidupan beragama misalnya, terlalu mudah kita mengklaim Allah sebagai Allah kita sendiri, yang �hanya� berpihak kepada kita, dan kalau perlu selalu mengikuti kemauan kita. Maka karena itu dengan sangat mudah juga kita mengklaim diri sebagai �anak Tuhan�. Klaim itu tidak salah, asal saja dilakukan dalam kerendahan hati, dengan selalu mengingat bahwa Allah sesungguhnya baik kepada semua orang (Mzm. 145:9). Bahwa Allah pun menerbitkan matahari-Nya dan menurunkan hujan bagi mereka. Sidang Raya XV PGI yang diselenggarakan akhir tahun ini (November 2009) dengan sengaja memilih tema ini (�Allah Itu Baik Kepada Semua Orang�) untuk menekankan bahwa Allah yang menderita di dalam Yesus Kristus itu tidak mau diklaim oleh siapapun untuk mendiskreditkan pihak-pihak lain. Di dalam bidang kehidupan ekonomi, apakah makna penderitaan Allah? Wajah Allah tergambar di wajah orang-orang miskin yang dalam banyak hal terpuruk dan tertinggal karena praktek-praktek ekonomi yang tidak adil. Ekonomi kapitalisme yang dipraktekkan oleh Amerika Serikat sekarang ini mengalami kesulitan besar dan dampaknya terasa bagi seluruh umat manusia sebagai akibat krisis keuangan. Pemanasan global sekarang ini juga tidak dapat dilepaskan dari sikap dasar manusia yang ingin menguasai segala sesuatu. Barack Obama, di dalam pidato pengukuhannya sebagai Presiden USA menekankan perilaku kerakusan yang menghinggapi banyak orang. Mahatma Gandhi pernah mengatakan, sesungguhnya bumi menyediakan cukup hal bagi keperluan semua orang, tetapi tidak cukup bagi seorang yang rakus. Dalam Konferensi Gereja dan Masyarakat (KGM) VIII-PGI yang diselenggarakan di Cipayung dalam bulan November 2008 lalu diserukan untuk memberi perhatian serius kepada ekonomi kerakyatan yang memberdayakan masyarakat.<br />
Di bidang politik orang sekarang berlomba-lomba untuk memperoleh kekuasaan. Pemilu ini telah diriuhrendahkan oleh sekian banyak caleg yang memasang fotonya di mana-mana. Bagaimana Allah yang menderita itu terefleksi dalam dimensi-dimensi politik itu? Sayang sekali, bidang ini juga telah dikuasai oleh �agama-agama politik� dan �teologi-teologi politik� (Moltmann). Memang dari semula, iman Kristen telah bergumul dengan agama-agama politik dari masyarakat. Di negeri kita tidak jarang kita ketemu dengan apa yang disebut politisasi agama. Di dalam politisasi agama, agama diperalat bagi tujuan kekuasaan. Maka kalau orang Kristen benar-benar hendak bercermin kepada Allah yang menderita di dalam Yesus Kristus, perjuangan di bidang politik mestinya tidak boleh memperalat agama. Tentu saja iman Kristen mengilhami dan memberi motivasi bagi perjuangan di bidang politik. Ini berbeda dengan mengutip ayat-ayat Alkitab bagi tujuan pemenangan sendiri.</p>
<p>VI. Bukan Sikap Pesimisme</p>
<p>Apakah dengan menekankan kepada salib Kristus dan penderitaan Allah kita hendak membangkitkan sikap pesimisme di antara orang beriman? Tidak demikian. Menghayati kembali peranan salib Kristus dan bagaimana Allah berperan di dalamnya hendak menegaskan bahwa Allah sungguh-sungguh serius dengan persoalan-persoalan kita. Kalau Allah sungguh-sungguh serius dengan persoalan manusia, maka tentulah kita sebagai umat-Nya juga dipanggil untuk benar-benar serius dengan persoalan-persoalan kemanusiaan itu. Ini berarti keterlibatan penuh di dalam berbagai upaya penanggulangan persoalan manusia di mulai dari lingkungan kita masing-masing.</p>
<p>_________________<br />
*) Disampaikan dalam Program Pendidikan Teologi Jemaat Tahap II GKI Pondok Indah, 16 Maret 2009.<br />
**) Ketua Umum PGI.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marnaek.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marnaek.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marnaek.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marnaek.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/marnaek.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/marnaek.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/marnaek.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/marnaek.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marnaek.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marnaek.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marnaek.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marnaek.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marnaek.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marnaek.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marnaek.wordpress.com&amp;blog=2534102&amp;post=15&amp;subd=marnaek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marnaek.wordpress.com/2009/07/29/salib-dan-penderitaan-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077334d1984dd45de7892db6ec649b96?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Naek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://marnaek.wordpress.com/2009/07/29/hello-world/</link>
		<comments>http://marnaek.wordpress.com/2009/07/29/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jul 2009 17:47:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marnaek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wordpress/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marnaek.wordpress.com&amp;blog=2534102&amp;post=1&amp;subd=marnaek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marnaek.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marnaek.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marnaek.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marnaek.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/marnaek.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/marnaek.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/marnaek.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/marnaek.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marnaek.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marnaek.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marnaek.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marnaek.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marnaek.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marnaek.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marnaek.wordpress.com&amp;blog=2534102&amp;post=1&amp;subd=marnaek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marnaek.wordpress.com/2009/07/29/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077334d1984dd45de7892db6ec649b96?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Naek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SULUT 30 TAHUN : TERJADIKAH  TRANSFORMASI EKONOMI ?</title>
		<link>http://marnaek.wordpress.com/2008/02/21/sulut-30-tahun-terjadikah-transformasi-ekonomi/</link>
		<comments>http://marnaek.wordpress.com/2008/02/21/sulut-30-tahun-terjadikah-transformasi-ekonomi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 08:21:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marnaek</dc:creator>
				<category><![CDATA[[Freddy Roeroe]]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marnaek.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[ Tanggal 23 September 1994 Sulawesi Utara genap berusia 30 tahun sebagai provinsi dan daerah otonom. Muncul pertanyaan paling mendasar, &#8220;Apa skenario besar Sulut 25 atau 30 tahun mendatang?&#8221; Bagi Sulut skenario ini menjadi amat strategis, terutama karena setelah genap berusia 30 tahun dan setelah menyelesaikan pembangunan jangka panjang 25 tahun pertama (PJP-I) provinsi paling utara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marnaek.wordpress.com&amp;blog=2534102&amp;post=12&amp;subd=marnaek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&amp;gt;     Normal   0                         MicrosoftInternetExplorer4   &amp;lt;![endif]--><!--[if !mso]&amp;gt;  st1\:*{behavior:url(#ieooui) }  &amp;lt;![endif]--> <!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:SimSun; 	panose-1:2 1 6 0 3 1 1 1 1 1; 	mso-font-alt:宋体; 	mso-font-charset:134; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:1 135135232 16 0 262144 0;} @font-face 	{font-family:"Book Antiqua"; 	panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"Trebuchet MS"; 	panose-1:2 11 6 3 2 2 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"\@SimSun"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:134; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:1 135135232 16 0 262144 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:SimSun; 	mso-fareast-language:ZH-CN;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --> <!--[if gte mso 10]&amp;gt;   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";}  &amp;lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;"> T</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">anggal </span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">23 September 1994</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;"> Sulawesi Utara genap berusia 30 tahun sebagai provinsi dan daerah otonom. Muncul pertanyaan paling mendasar, &#8220;Apa skenario besar Sulut 25 atau 30 tahun mendatang?&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Bagi Sulut skenario ini menjadi amat strategis, terutama karena setelah genap berusia 30 tahun dan setelah menyelesaikan pembangunan jangka panjang 25 tahun pertama (PJP-I) provinsi paling utara Indonesia ini ternyata hanya mampu menaikkan pendapatan per kapita rakyatnya dari rata-rata 80 dollar AS pada awal PJP-I menjadi 370 dollar AS pada awal PJP-II. Angka itu jauh di bawah rata-rata nasional, sekitar 650 dollar AS.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Ketua Lembaga Penelitian Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Prof Dr Ir Lucky Winston Sondakh MSc yang mengevaluasi dan menganalisis perkembangan ekonomi Sulut selama 30 tahun terakhir bersama penulis mengatakan, tanpa mengabaikan kerja keras<span>  </span>Sulut tidak mengalami transformasi ekonomi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Kemajuan yang berarti justru baru terjadi pada era lima tahun terakhir, yakni rata-rata pertumbuhan ekonomi Sulut naik dari 5,03 persen selama Pelita IV menjadi rata-rata 8,4 persen pada Pelita V. Tingkat kemiskinan turun dari sekitar 45 persen pada awal PJP I menjadi sekitar 12 persen pada awal PJP II.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Perkembangan amat berarti terjadi pada kualitas hidup. Tingkat <i>infant mortality rate</i> (kematian bayi) turun tajam dari 110/1.000 pada awal PJP I menjadi sekitar 40-50/1.000 pada akhir PJP I.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">LW Sondakh mengatakan, semua keberhasilan itu adalah hasil sinergi antara strategi pembangunan nasional dan kerja keras Pemda Sulut serta seluruh Pemda Tingkat II yang mampu menumbuhkan dan membangkitkan kreativitas serta inovasi masyarakat. Ini yang menjadi penyebab tingginya tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Kemajuan yang berarti juga tampak pada keberhasilan Sulut keluar dari kemelut resesi ekonomi karena anjloknya harga minyak bumi serta sejumlah produk pertanian, termasuk hasil utama Sulut, yaitu kelapa/kopra pada awal 1980-an. Lucky Sondakh, yang lulusan University of New Armidale Australia, berpendapat,<span>  </span>selama ini Sulut mampu membangun suasana masyarakat<span>  </span>yang harmonis dan aman serta bebas dari beragam gejolak politik termasuk segala bentuk unjuk rasa seperti yang terjadi di daerah lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Di balik beragam keberhasilan itu, Sulut, yang berpenduduk sekitar 2,5 juta, selama 25 tahun pembangunan jangka panjang (PJP) I, masih menyisakan sejumlah masalah. Masalah paling pokok, sebetulnya pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita<span>  </span>pada PJP I masih bisa lebih tinggi dari yang telah dicapai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Selama PJP I, menurut Sondakh, perkembangan Sulut ibarat pertumbuhan yang menaik dengan tingkat kenaikan yang menurun (<i>increase at decreasing rate</i>), terutama sampai 1984.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Pada 1970, PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) per kapita Sulut berada 20 persen di atas rata-rata nasional. Tetapi, pada 1986 turun menjadi 35 persen di bawah rata-rata nasional. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Keadaan itu mulai berubah setelah pemda melakukan penyesuaian struktur, terutama terhadap kebijakan deregulasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Hasilnya, pertumbuhan ekonomi naik dari rata-rata 1,3 persen pada 1984 menjadi 3,42 persen<span>  </span>1985,<span>  </span>kemudian 3,61 persen 1986, lalu naik lagi menjadi 5,52 persen 1987 dan seterusnya sampai sekarang (kecuali 1989 &#8211; 5,85 persen) di atas 7 persen.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Dari tingkat ketersediaan sumber daya alam dan kualitas sumber daya manusia yang relatif bagus kemajuan Sulut terutama sejak 1986 sampai kini tidak mampu mengatrol ketertinggalannya selama periode<span>  </span>1970-1985. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Mengapa? Jawabannya, pertama, lemahnya ketersediaan prasarana dan sarana fisik seperti pelabuhan laut dan udara menjadikan Sulut belum mampu tampil sebagai pintu gerbang ekspor-impor. Juga karena terbatasnya pasar domestik dan rendahnya tingkat<span>  </span>produktivitas pertanian. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Kedua, letak geografis Sulut yang terpencil menjadikannya relatif jauh dari pasar domestik menyebabkan Sulut beroperasi pada sistem ekonomi regional dengan biaya tinggi. Ketiga, kebijakan ekonomi nasional terutama komoditas perdagangan yang kurang mendorong proses pembangunan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Diterapkannya sejumlah kebijakan tata niaga dinilai menurunkan nilai tukar tiga komoditas andalan Sulut, cengkeh, pala, dan kopra atas kebutuhan pokok. Nilai tukar 1 kg cengkeh, misalnya, turun dari 20 kg beras pada akhir 1970-an menjadi sekitar 5 kg beras pada awal 1990-an.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Harga kopra dan cengkeh yang relatif turun tidak bersumber dari fluktuasi pasar dunia, tetapi pada sistem tata niaga yang kurang menguntungkan produsen. Khusus kopra, sejak dua tahun terakhir menunjukkan trend naik menyusul dicabutnya ketentuan larangan ekspor. Menurut catatan, harga kopra dua tahun terakhir bergerak naik dari sekitar Rp 400/kg menjadi di atas Rp 700.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Atas aneka kendala itu (terbatasnya sarana prasarana, kebijakan tata niaga, letak geografis yang jauh dari pasar), pertumbuhan ekonomi Sulut disimpulkan sebagai pertumbuhan berketahanan rendah, karena tidak tumbuh pada proses transformasi<span>  </span>struktur ekonomi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Menurut Sondakh, suatu proses pertumbuhan yang berketahanan tinggi hanya terjadi bila pertumbuhan itu bertumpu pada pergeseran struktur ekonomi dari pertanian ke industri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Tidak terjadinya transformasi dibuktikan rendahnya kontribusi sektor M (manufaktur) terhadap PDRB. Sementara kontribusi sektor M secara nasional berkisar 23 persen pada 1991, sedangkan khusus<span>  </span>Sulut kontribusi sektor M hanya 5,7 persen.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Rendahnya kontribusi sektor M itu menunjukkan perlunya kebijakan penyesuaian dalam pembangunan regional Sulut, terutama penyesuaian kebijakan di tingkat nasional. Mengapa? Karena bukan hanya Sulut yang tidak mengalami transformasi ekonomi, tetapi pada umumnya kawasan timur Indonesia (KTI).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;"><span>      </span><span>      </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Jadi, isu pokok pembangunan Sulut kini dan nanti adalah bagaimana mengubah dan menyesuaikan struktur ekonomi dari pertanian ke manufaktur dan jasa. Untuk mengubah struktur itu, tidak dapat dielakkan perlunya kebijakan pembangunan yang terfokus pada upaya peningkatan bukan saja investasi, tetapi juga reinvestasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Kebijakan reinvestasi amat diperlukan, karena tanpa kebijakan itu daerah pinggiran hanya akan menjadi penyedia pertumbuhan ekonomi di daerah sentral. Reinvestasi hanya dapat dilakukan bila kebijakan pembangunan yang berdasarkan pendekatan <i>production squeeze </i>ditinggalkan. <i>Production squeeze</i> adalah pendekatan yang melihat daerah periper hanya sebagai penyedia bahan </span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">baku</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">. Sistem ini menyebabkan nilai tambah hasil pertanian tidak dinikmati petani. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Untuk Sulut, Sondakh melihat, peningkatan produktivitas pertanian, terutama harus ditujukan pada peningkatan industri kelapa dan perikanan. Kedua hal ini menghasilkan sekitar 90 persen ekspor dan merupakan sumber hidup sekitar 60-70 persen penduduk Sulut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Data terakhir menunjukkan, total ekspor Sulut Januari-Agustus 1994 sebesar 100 juta dollar AS (naik dari 60 juta dollar untuk periode yang sama tahun lalu), sekitar 49 juta dolar AS di antaranya dari bahan asal kelapa (minyak, bungkil, tepung, arang aktif, dan arang tempurung) dan lebih 39 juta dolar AS dari barang asal perikanan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Percepatan proses transformasi Sulut kian terlihat dengan terus mantapnya kebijakan <i>outward looking</i> yang menjadi salah satu program andalan Gubernur CJ Rantung. Kebijakan itu dinilai mampu mengubah posisi periper Sulut menjadi kawasan pusat pertumbuhan di wilayah perbatasan utara </span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;"> bagian timur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Lewat kebijakan <i>outward looking</i>, empat sektor unggul (agroindustri, perikanan, pariwisata, dan pertambangan) ditetapkan sebagai lokomotif pembangunan Sulut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Tanda-tandanya mulai tampak. Minat pengusaha nasional dan investor asing menanam modal di Sulut kian besar, menyusul pembukaan penerbangan internasional langsung dari dan ke Manado oleh Bourag Indonesia (Manado-Davao-Manila), Silk Air (Manado-Singapura), Transasia Airways (Taipei-Manado), Korean Airlines (kargo Manado-Korea), dan program penerbangan Kuala Lumpur-Kota Kinibalu-Manado dan Brunei Darussalam – Manado.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Karena itu, kata Gubernur Rantung, tidak berlebihan jika Sulut pada Pelita VI mencanangkan total penanaman modal Rp 3,7 triliun. Jika rancangan itu tercapai, kawasan timur </span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;"> akan kian semarak, sumbangan bagi kemajuan nasional pun kian besar.<span>          </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Untuk memacu pertumbuhan ekonomi, Dr Ir JWP Mandagie MSc, ahli ekonomi regional </span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">lulusan</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;"> </span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">University</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;"> of Minesota, AS berpendapat, Sulut tidak perlu mengubah program yang bertumpu pada pengembangan<span>  </span>empat sektor unggul dengan strategi <i>outward looking</i>. Penekanan justru harus diarahkan, bagaimana menjadikan BIMP EAGA (</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Brunei</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;"> &#8211; </span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;"> – </span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Malaysia</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;"> -Philipinnes East Asean Growth Area) sebagai pusat pertumbuhan baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Menurut Mandagie, persoalannya kini adalah menjadikan BIMP EAGA<span>  </span>yang telah dikeppreskan menjadi <i>force of growth</i>. Hal itu jangan dilihat semata untuk keuntungan daerah, sebab di balik itu semua yang menonjol adalah keuntungan secara nasional. Persoalannya, Sulut yang letaknya di bibir Samudera Pasifik bersaing ketat dengan Davao City dan Kota General Santos di Filipina Selatan dalam merebut akses ke pasar Pasifik yang makin ramai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Keliru mengantisipasi perkembangan pesat di Filipina Selatan dan Malaysia Timur (</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Sabah</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">) akan menjadikan Sulut dan kawasan Timur </span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;"> tak berubah. Bentuk antisipasi yang diperlukan, bagaimana mempercepat tersedianya aneka infrastruktur yang akan menunjang tampilnya Sulut sejajar dengan kawasan Filipina Selatan dan Malaysia Timur dalam berkiprah di pasar Asia Pasifik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Bila di kawasan barat, Batam harus berjuang mengejar ketertinggalannya dari Singapura, maka untuk kawasan timur, </span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Manado</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;"> dan Bitung perlu lebih kerja keras. Start-nya pun bersamaan dengan </span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Davao</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;"> (Filipina Selatan) dan </span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Sabah</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;"> (Malaysia Timur).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';">Dengan demikian kita boleh berharap Sulut dan KTI tidak bakal tertinggal dalam bersaing di pasar Pasifik dan global.<span style="color:black;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;"> </span></p>
<div style="border-style:none none solid;border-width:medium medium 1pt;padding:0 0 1pt;">
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;line-height:150%;padding:0;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;"> </span></p>
</div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Book Antiqua';color:black;">Dimuat di <i>Kompas,</i> Jumat, 28 Oktober 1994, hal.9</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/marnaek.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/marnaek.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marnaek.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marnaek.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marnaek.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marnaek.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/marnaek.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/marnaek.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/marnaek.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/marnaek.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marnaek.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marnaek.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marnaek.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marnaek.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marnaek.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marnaek.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marnaek.wordpress.com&amp;blog=2534102&amp;post=12&amp;subd=marnaek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marnaek.wordpress.com/2008/02/21/sulut-30-tahun-terjadikah-transformasi-ekonomi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077334d1984dd45de7892db6ec649b96?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Naek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KOMISI TEOLOGI-PGI</title>
		<link>http://marnaek.wordpress.com/2008/02/21/komisi-teologi-pgi/</link>
		<comments>http://marnaek.wordpress.com/2008/02/21/komisi-teologi-pgi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 07:30:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marnaek</dc:creator>
				<category><![CDATA[[TEOLOGIA]]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marnaek.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Andreas A. Yewangoe     I.        Komisi Teologi PGI Diaktifkan   Kendati komisi ini telah terbentuk beberapa saat sejak MPH-PGI periode 2004-2009 mengangkat tugasnya, namun kegiatan-kegiatannya belum terlihat. Salah satu sebabnya adalah tidak terdeteksinya secara persis persoalan-persoalan teologi yang dihadapi oleh gereja-gereja (dan jemaat-jemaat). Pada halnya, dapat diduga sekian banyak persoalan-persoalan teologi dirasakan oleh gereja-gereja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marnaek.wordpress.com&amp;blog=2534102&amp;post=11&amp;subd=marnaek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&amp;gt;     Normal   0                         MicrosoftInternetExplorer4   &amp;lt;![endif]--><!--[if !mso]&amp;gt;  st1\:*{behavior:url(#ieooui) }  &amp;lt;![endif]--> <!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Century Gothic"; 	panose-1:2 11 5 2 2 2 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText 	{mso-style-noshow:yes; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter 	{margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.MsoFootnoteReference 	{mso-style-noshow:yes; 	vertical-align:super;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1957642319; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-2038783746 1476721812 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:roman-upper; 	mso-level-tab-stop:54.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:54.0pt; 	text-indent:-36.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --> <!--[if gte mso 10]&amp;gt;   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";}  &amp;lt;![endif]--><b><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';"></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';"><span></span><b>Andreas A. Yewangoe</b></span></p>
<div style="border-color:rgb(0,;border-style:none none solid;border-width:medium medium 1.5pt;padding:0;">
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';"> </span></p>
</div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><b><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';"><span>I.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span></b><!--[endif]--><b><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Komisi Teologi PGI Diaktifkan</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Kendati komisi ini telah terbentuk beberapa saat sejak MPH-PGI periode 2004-2009 mengangkat tugasnya, namun kegiatan-kegiatannya belum terlihat. Salah satu sebabnya adalah tidak terdeteksinya secara persis persoalan-persoalan teologi yang dihadapi oleh gereja-gereja (dan jemaat-jemaat). Pada halnya, dapat diduga sekian banyak persoalan-persoalan teologi dirasakan oleh gereja-gereja (dan jemaat-jemaat). Karena itu kita akan segera menghidupkan Komisi Teologi ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Dalam perjalanan kita sebagai gereja sudah pasti banyak persoalan-persoalan teologi yang muncul, yang dalam banyak hal membingungkan gereja-gereja (dan jemaat-jemaat) kita. Sebutlah sebagai contoh munculnya sekian banyak publikasi yang memberi perhatian kepada Yesus Kristus. Penggambaran terhadap Yesus Kristus ini, dalam banyak hal berbeda dari apa yang selama ini difahami gereja-gereja (dan jemaat-jemaat). Kendati persoalan-persoalan itu, di kalangan para akademisi/teolog tidaklah terlalu baru (kita ingat akan penyelidikan Yesus yang historis dari Albert Sweitzer pada awal abd ke 20), namun tetap mencemaskan. Perhatian yang terlampau menekankan kepada kesejarahan Yesus misalnya, menimbulkan banyak pertanyaan-pertanyaan bagi kebanyakan anggota-anggota jemaat yang terbiasa dengan penghayatan Yesus secara dogmatis. Selama ini anggota-anggota jemaat tidak terlalu berminat (karena tidak tahu?) terhadap penggambaran kesejarahan Yesus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Pertanyaannya adalah, sampai berapa jauhkah kesejarahan Yesus menyumbang bagi pertumbuhan iman jemaat (kendati tentu saja sangat menarik!). Pertanyaan ini perlu digumuli terus-menerus. Buku-buku yang muncul dalam publikasi di Indonesia adalah (untuk menyebut beberapa saja), <i>Misquoting Jesus</i> (Barth Ehrman), <i>Injil Yudas</i> (National Geography), <i>Jesus Dynasty</i> (James Tabor), <i>The Jesus Papers</i> (Michael Baigent), <i>Holy Blood and Holy Grail </i>(Michael Baigent cs), <i>The Da Vinci Code </i>(Brown), dan masih banyak lagi. Yang menarik perhatian bahwa buku-buku itu diterjemahkan dan diterbitkan justru oleh penerbit-penerbit umum. Dengan demikian dapat diduga, bahwa penerbitan buku-buku ini akan menjangkau sekian banyak orang, baik di dalam mau pun di luar kekristenan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Selain dari persoalan mengenai Yesus Kristus, muncul lagi persoalan yang sesungguhnya tidak terlalu baru yaitu mengenai nama Allah. Kita ingat bahwa beberapa waktu lalu, sdr Suradi pernah mempromosikan agar umat Kristen jangan lagi memakai nama Allah. Konon, Allah yang dipakai di dalam Alkitab terbitan LAI berasal dari nama “berhala” Arab. Alkitab hanya mengenal YHWH Elohim, katanya. Konsekwensinya, sdr Suradi mencetak Alkitabnya sendiri, yang sesungguhnya merupakan jiplakan dari Alkitab terbitan LAI, kecuali dengan mengubah nama Allah menjadi Yehovah. Baru-baru ini persoalan ini muncul lagi melalui gugatan sdr Yeremia ke Pengadilan. Ia menuntut LAI mencabut nama Allah dari Alkitab. Kalau gugatan itu diterima, dapat diduga akan menimbulkan kehebohan bukan saja di kalangan umat Kristen, tetapi juga di antara bangsa </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Indonesia</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';"> pada umumnya. Kita tahu bahwa di </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Malaysia</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">, keluarnya larangan pemakaian nama Allah bagi umat non-Muslim berasal dari pemerintah </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Malaysia</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">. Sekarang ini gereja-gereja di Malaysia sedang menggugat pemerintah </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Malaysia</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Hal lain yang menonjol bersangkut-paut dengan persepsi (anggota) jemaat mengenai (kehidupan) bergereja. Apa sesungguhnya gambaran yang terpateri di dalam pemikiran anggota-anggota jemaat apabila mereka berbicara tentang gereja? Kita mendapat kesan, bahwa sekian banyak ”versi” tentang gereja difahami oleh anggota-anggota jemaat kita. Maraknya pertumbuhan gereja-gereja dapat saja dianggap sebagai kekayaan, tetapi pada saat yang sama bisa juga merupakan kelemahan. Sidang Raya PGI menegaskan bahwa gereja adalah “Gereja Bagi Orang Lain”. Ini mengindikasikan bahwa gereja mesti terbuka kepada lingkungannya, berorientasi kepada berbagai keprihatinan dan kekuatiran “dunia”, dan tidak hanya mengarah hanya kepada kepentingan diri. Tentu saja, melalui gereja, orang sedikit-banyaknya merasa diberkati dengan berbagai macam berkat. Tetapi itu tidak berarti bahwa gereja hanya berorientasi kepada dirinya sendiri. Kadang-kadang kita mendapat kesan adanya kecenderungan mengidividualisasikan keselamatan. Bersangkut-paut dengan pemahaman tentang gereja, maka misi gereja di dalam dunia (masyarakatnya) juga memperoleh sorotan. Bagaimanakah menyampaikan “Kabar Baik” kepada masyarakat yang majemuk seperti </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Indonesia</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">, adalah pertanyaan yang sedang digumuli oleh PGI melalui rentetan-rentetan konsultasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Pokok-pokok tentang Allah, Yesus Kristus dan Gereja sebagaimana dikemukakan di atas sedikit-banyaknya telah dirumuskan di dalam “Dokumen Keesaan Gereja” (DKG), dan lebih khusus lagi di dalam “Pemahaman Bersama Iman Kristen” (PBIK). Hanya saja rumusan-rumusan itu belum terlalu memadai. Dibutuhkan elaborasi yang terus-menerus, sejalan dengan berbagai perkembangan-perkembangan di dalam gereja dan masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><b><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';"><span>II.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span></b><!--[endif]--><b><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Kita Mulai Dengan Diskusi</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Dari penggambaran singkat ini jelas bahwa kita membutuhkan diskusi-diskusi intensif. Tentu saja kita tidak dapat menangani semuanya, apalagi dengan masa jabatan MPH yang tersisa dua tahun lagi. Tetapi ada baiknya kita mulai saja dengan memprioritaskan pokok yang sangat mendesak dalam bulan-bulan ini. Pokok-pokok lain akan kita diskusikan kemudian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Saya mengusulkan agar kita mulai dengan topik “Nama Allah”. Sesudah itu disusul dengan persoalan Yesus Kristus. Akhirnya kita mendiskusikan Gereja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Anggota-anggota Komisi Teologi telah ditetapkan oleh MPH-PGI. Mereka akan segera diundang, dan dalam rapat yang pertama nanti mereka menunjuk Ketua. Sekretaris Bidang Koinonia, secara otomatis akan menjadi Sekretaris Komisi. Sekretaris Bidang Marturia juga dilibatkan dalam Komisi ini, sebab bagaimanapun topik-topik diskusi ini mempunyai sangkut pautnya dengan tugas gereja di bidang Kesaksian (Marturia). Dengan sendirinya Kepala Biro Informasi dan Penelitian juga diikutsertakan. Apalagi Biro ini sedang merencanakan sebuah penelitian yang berfokus pada pergeseran pemikiran teologi di dalam gereja-gereja di Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Kita akan memulai pertemuan pertama pada tanggal<span>  </span>7 Februari 2008 jam 16 di Salemba 10.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><b><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Lampiran</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Orang makin giat menyelenggarakan kehidupan bergereja, dengan berbagai versinya. Berbagai upaya-upaya penginjilan, khususnya yang berasal dari luar-negeri sangat marak. Gejala ini menarik, sebab pada saat yang sama terdapat kesan adanya upaya-upaya untuk memarjinalkan peranan Kristen di dalam masyarakat. Apakah upaya-upaya penginjilan itu bertujuan untuk memantapkan lagi peranan Kristen, atau untuk “membuktikan” bahwa kendati kita dimarnjinalkan, namun tidak mungkin dikalahkan? Atau sekadar menjadikan Indonesia sebagai sasaran “empuk” bagi para pekabar Injil dari luar negeri? Beberapa waku lalu, saya ditelpon oleh seorang tokoh gereja di Jakarta menanyakan posisi PGI dalam upaya-upaya pekabaran Injil di Indonesia. Tokoh ini agak terganggu dengan apa yang disebutnya “Kristenisasi terang-terangan” yang dilakukan sebuah kelompok tertentu. Konon, para tetangga diundang untuk menonton sebuah acara televisi yang ditayangkan secara sentral. Lalu dilakukan diskusi, dan pada akhir diskusi kepada tamu ditantang untuk menentukan pilihan. Tokoh kita ini cemas, bahwa cara-cara seperti itu justru akan memancing kecurigaan di kalangan Islam yang selama ini memang telah menaruh kecurigaan kepada kita. Bukan hanya itu saja. Berbagai kegiatan-kegiatan kebangunan rohani yang disertai dengan penyembuhan juga tidak selalu mudah difahami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Menjamurnya gereja-gereja dengan berbagai denominasi juga perlu mendapat perhatian kita. Apa sesungguhnya yang ada di balik dari menjamurnya denominasi-denominasi itu, kendati adanya denominasi bukanlah sesuatu yang baru di dalam sejarah gereja. Saya melihat bahwa kegairahan bergereja di dalam masyarakat kita, pada satu pihak bisa positif, tetapi pada pihak lain bisa juga negatip kalau tidak memperhatikan konteks masyarakat yang di dalamnya gereja itu ada. Persoalan pokok kita adalah, bagaimana bergereja di dalam masyarakat majemuk Indonesia. Tentu saja pertanyaan ini mesti didahului oleh pertanyaan yang lebih mendasar, apakah gereja sesungguhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Banyak jawaban-jawaban bisa diberikan terhadap pertanyaan ini. Bahkan dalam berbagai buku-buku teologi jawaban “baku” sudah tersedia. Dalam kaitan ini saya ingin merujuk kepada rumusan di dalam PBIK.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Rumusan tentang gereja itu ditemukan dalam Bab VI<a href="#_ftn1" title="_ftnref1" name="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>. Rumusan yang terdiri dari 11 paragraf ini merumuskan hal-hal sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Paragraph 18: bahwa gereja dihimpunkan dari segala bangsa, suku dan kaum dan bahasa yang di dalamnya Kristus adalah Tuhan dan Kepala. Roh Kudus yang sama itu juga memberi kuasa kepada gereja uantuk menjadi saksi. Maka gereja tidak hidup untuk dirinya sendiri. Sebaliknya, sama seperti Kristus yang mengosongkan dirinya, sedemikian pula gereja mestinya mengosongkan dirinya. “…gereja dipanggil untuk menyangkal diri dan mengorbankan kepentingannya sendiri…. Agar semua orang dapat mengalami pembebasan dan penyelamatan Allah di dalam Yesus Kristus…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Par. 19, gereja ada di dunia sebagai arak-arakan umat Allah yang terus bergerak menuju ke kepenuhan hidup di dalam Kerajaan Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Par 20, gereja ditempatkan Tuhan sendiri melaksanakan tugas panggilannya dalam konteks sosial politik, ekonomi dan budaya tertentu. Demikianlah halnya gereja-gereja di Indonesia dipanggil dan ditempatkan Tuhan sendiri untuk melaksanakan tugas panggilannya di tengah bangsa dan NKRI;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Par.21, gereja mengakui bahwa negara adalah alat dalam tangan Tuhan yang bertujuan menyejahterakan manusia dan memelihara ciptaan Allah. Maka gereja dan negara harus bahu-membahu dalam mengusahakan penegakan keadilan dan mengusahakan kesejahteraan seluruh rakyat serta keutuhan ciptaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Par.22, gereja selalu membutuhkan pertobatan dan pembaruan yang terus-menerus. Maka bimbingan bahkan teguran Roh Kudus dibutuhkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Par.23, Allah menjadikan gereja itu sebagai suatu persekutuan yang mengaku satu tubuh, satu roh dalam ikatan damai-sejahtera. Dengan demikian gereja itu esa. Tetapi keesaannya tidaklah dalam pengertian duniawi, tetapi seperti keesaan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus (Yoh.17:21-22). Maka dasarnya adalah persekutuan kasih. Maka gereja adalah keluarga dan kawan sekerja Allah (Ef.2:19; 1 Kor.3:9a).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Par. 24, persekutuan itu dikuduskan dalam kebenaran (Yoh.17:17-19). Dengan demikian gereja itu kudus. Persekutuan yang kudus itulah yang diutus ke dalam dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Par. 25, persekutuan itu mencakup semua orang percaya dari segala tempat dan sepanjang zaman, dan mencakup segala suku bangsa, kaum dan bahasa, dan dari pelbagai lapisan sosial yang dipersekutukan ke dalam tubuh Kristus yaitu gereja. Sebagai demikian gereja adalah am.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Par. 26, persekutuan ini bertekun dalam dan dibangun di atas pengajaran para rasul tentang Injil Yesus Kristus. (Kis.2:42; Ef.2:20). Dengan demikian gereja itu rasuli, artinya dipanggil untuk memelihara ajaran para rasul (1 Tes.3:6; 1 Tim.1:3).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';">Par 27, oleh karena itu gereja dan orang-orang percaya di segala tempat dan di sepanjang zaman terpanggil untuk mewujudkan keesaan, kekudusan, keimanan dan kerasulannya, baik dalam…Dengan demikian semua bentuk kehidupann gereja itu untuk menjadi saksi Yesus Kristus ke ujung bumi adalah ungkapan dari gereja yang esa, kudus, am dan rasuli.</span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />  <!--[endif]--></p>
<div>
<p class="MsoFootnoteText"><a href="#_ftnref1" title="_ftn1" name="_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> DKG, h.79-83</p>
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/marnaek.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/marnaek.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marnaek.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marnaek.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marnaek.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marnaek.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/marnaek.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/marnaek.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/marnaek.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/marnaek.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marnaek.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marnaek.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marnaek.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marnaek.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marnaek.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marnaek.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marnaek.wordpress.com&amp;blog=2534102&amp;post=11&amp;subd=marnaek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marnaek.wordpress.com/2008/02/21/komisi-teologi-pgi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077334d1984dd45de7892db6ec649b96?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Naek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Berteologi?</title>
		<link>http://marnaek.wordpress.com/2008/02/21/bagaimana-berteologi/</link>
		<comments>http://marnaek.wordpress.com/2008/02/21/bagaimana-berteologi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 07:23:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marnaek</dc:creator>
				<category><![CDATA[[TEOLOGIA]]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marnaek.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Pdt Mangapul Sagala Dua minggu yang lalu, diadakan sebuah pembinaan di sebuah Gereja di wilayah Cinere. Sebenarnya, Gereja tersebut sudah rutin mengadakan pembinaan bagi warga jemaat yang disebut dengan PTJ (Pendidikan Teologi Jemaat). Itulah sebabnya, anggota jemaat yang memang rindu untuk dibina biasanya menyambut PTJ dengan sukacita dan penuh semangat.Namun kelihatannya, PTJ pada saat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marnaek.wordpress.com&amp;blog=2534102&amp;post=10&amp;subd=marnaek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&amp;gt;     Normal   0                         MicrosoftInternetExplorer4   &amp;lt;![endif]--><!--[if !mso]&amp;gt;  st1\:*{behavior:url(#ieooui) }  &amp;lt;![endif]--> <!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Book Antiqua"; 	panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --> <!--[if gte mso 10]&amp;gt;   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";}  &amp;lt;![endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';"><b>Oleh </b><b>Pdt Mangapul Sagala</b><i></i></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Dua minggu yang lalu, diadakan sebuah pembinaan di sebuah Gereja di wilayah Cinere. Sebenarnya, Gereja tersebut sudah rutin mengadakan pembinaan bagi warga jemaat yang disebut dengan PTJ (Pendidikan Teologi Jemaat). Itulah sebabnya, anggota jemaat yang memang rindu untuk dibina biasanya menyambut PTJ dengan sukacita dan penuh semangat.Namun kelihatannya, PTJ pada saat itu lain dari biasanya. Beberapa anggota jemaat kurang bersemangat dan cemas menyambutnya. Mengapa? Menurut pesan singkat (sms) yang diterima oleh istri saya, seorang anggota jemaat mengatakan keheranannya dengan pembicara yang diundang. “Masak sih orang tersebut diundang di Gereja? Bukankah dia telah membingungkan jemaat dengan artikelnya yang dia tulis pada sebuah media pada waktu yang lalu?” demikian bunyi pesan singkat tersebut.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Saya mengerti kebingungan yang ditunjukkan oleh orang-orang tersebut. Jujur saja, saya juga heran dan mempertanyakan motivasi mengundang pembicara tersebut. Mengapa? Karena lebih dari sepuluh tahun yang lalu, saya telah mengenal orang itu sebagai seorang penulis dan pembicara yang cukup provokatif. Hal yang sama ditegaskannya ketika beberapa kali berkomunikasi dengan saya melalui </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">surat</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';"> elektronik (email). Orang tersebut seringkali mengatakan atau menuliskan pandangan yang bertentangan dengan apa yang telah lazim diyakini oleh jemaat, yang juga berbeda dengan pernyataan Alkitab itu sendiri. Karena itu, artikel-artikel yang dikirimnya atau yang dikirim oleh para pengagumnya ke berbagai groups atau mailing lists seringkali ditanggapi dengan pro-kontra.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Demikian juga, artikel yang ditulisnya dua bulan yang lalu di sebuah media nasional telah membingungkan banyak orang, khususnya yang belum mengenalnya secara pribadi. Bagaimana tidak? Salah satu pengakuan iman Gereja yang paling mendasar adalah tentang kebangkitan Yesus dari kubur. Hal itulah yang diikrarkan oleh jemaat setiap hari Minggu.<br />
Namun demikian, dalam sebuah tulisannya pada media tsb di atas, orang tersebut menegaskan hal yang berbeda: tulang belulang Yesus ditemukan di Talpiot; kebangkitan Yesus merupakan metafora, kiasan, “bukan kejadian sejarah objektif” (Baca, Kompas, </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">5  April 2007</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Membangunkan atau Membingungkan?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Kembali kepada pembinaan di atas. Rupanya, bukan saja pembicaranya yang mengundang tanya. Tema yang diberikan juga demikian: Injil Yudas. Apa tujuannya memberikan tema tersebut kepada jemaat? Menurut seorang majelis, tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa Injil Yudas itu menyesatkan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Injil Yudas tersebut tidak boleh disejajarkan dengan keempat Injil: Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Dengan demikian, jemaat diharapkan semakin menghargai dan mencintai Alkitab.<br />
Lalu, bagaimana hasilnya? Nah, di sinilah masalahnya. Sebagaimana telah saya duga sebelumnya, dalam pembinaan, pembicara telah mengatakan kalimat-kalimat yang biasa disebut oleh teolog-teolog liberal, tapi tidak biasa didengar jemaat. Dia juga menegaskan kemungkinan melakukan rekanonisasi Alkitab. Maksudnya, menambah atau mengurangi kitab-kitab dalam Alkitab (66 kitab yang terdiri dari 39 PL + 27 PB). </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Dalam makalah yang diberikan, pembicara dengan tegas mengatakan kesalahan penulis-penulis Alkitab, seperti Lukas dan Yohanes memperlakukan Yudas. Menurut pembicara, penulis-penulis Injil telah mendiskreditkan Yudas sebagai penghianat; padahal bukan.<br />
Sehubungan dengan itu, ketika Lukas menulis kisah Iblis yang memasuki Yudas (Lukas 22:3), kelihatannya, pembicara mencoba membela Yudas dan menyalahkan Lukas. Itulah sebabnya, dia menulis: “Gambaran Yudas yang dirasuk Iblis dengan demikian adalah gambaran yang sangat menghancurkan Yudas” (halaman 5). </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Selanjutnya, ketika tiba kepada Injil Yohanes, dia menulis: “Di dalam Injil Yohanes, pendiskreditan atas Yudas terjadi menyeluruh. Yudas adalah Iblis&#8230;” (halaman 6). Selanjutnya, pembicara menegaskan bahwa untuk itulah Injil Yudas ditulis, yaitu untuk meluruskan pengajaran yang salah tersebut. “Dalam Injil Yudas, perbuatan penyerahan diri Yesus itu dipuji, dan Yudas menjadi seorang hero&#8230;” (halaman 10).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Dengan pernyataan-pernyataan tersebut di atas, tentu saja, pembinaan jemaat yang diharapkan membangunkan iman jemaat, dalam kenyataannya, tidak demikian. Jemaat malah dibingungkan. Hal itu tampak jelas dari pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan. Misalnya, seorang bertanya: “Jika Injil Yudas adalah seperti yang bapak sampaikan, di mana posisi bapak? Bagaimana sikap bapak terhadap kanon Alkitab yang sudah ada?” </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Sementara itu, seorang yang sudah lanjut usia maju ke depan dan dengan nada yang emosional berkata: “Dalam usia saya seperti ini, belum pernah saya mendengarkan pengajaran seperti malam ini. Belum pernah saya mendengar adanya Injil lain selain Injil yang kita miliki. Saya tidak rela jika ada Injil lain yang disejajarkan dengan Injil yang telah kita miliki”. Mengapa dapat terjadi seperti hal di atas? Apakah hal-hal seperti itu dapat dibiarkan demi kebebasan berekspresi dengan berbagai pemahaman teologi yang dianut? Saya harus menjawab dengan tegas: tidak!<br />
Hal itulah yang diperingatkan rasul Paulus kepada orang-orang yang merasa bebas mengungkapkan imannya di Korintus: “Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah” (1Kor.8:9). </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Seruan tersebut penting untuk kita hayati bersama, khususnya para pejabat tinggi Gereja, seperti pendeta dan majelis. Seruan tersebut sangat penting dan relevan diperhatikan demi pertumbuhan iman jemaat. Seorang profesor di </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Trinity</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">  </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Theological</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">  </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">College</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';"> pernah menasehatkan mahasiswanya: “Anda bebas berteologi. Tidak ada seorang pun yang melarangmu. Tetapi berhati-hatilah, jangan sampai Anda menghancurkan iman jemaat”.</span><span style="font-family:'Book Antiqua';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/marnaek.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/marnaek.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marnaek.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marnaek.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marnaek.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marnaek.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/marnaek.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/marnaek.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/marnaek.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/marnaek.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marnaek.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marnaek.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marnaek.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marnaek.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marnaek.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marnaek.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marnaek.wordpress.com&amp;blog=2534102&amp;post=10&amp;subd=marnaek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marnaek.wordpress.com/2008/02/21/bagaimana-berteologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077334d1984dd45de7892db6ec649b96?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Naek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Studi Teologia, Pentingkah?</title>
		<link>http://marnaek.wordpress.com/2008/02/21/studi-teologia-pentingkah/</link>
		<comments>http://marnaek.wordpress.com/2008/02/21/studi-teologia-pentingkah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 07:17:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marnaek</dc:creator>
				<category><![CDATA[[TEOLOGIA]]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marnaek.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Pdt Mangapul Sagala Pentingkah belajar teologia? Jika penting, sejauh mana pentingnya? Cukup atau sangat penting? Jika sangat penting, mengapa ada sebagian orang yang meremehkannya? Barangkali tindakan meremehkan itu tidak eksplisit, namun gejalanya sebenarnya dapat kita lihat. Contohnya, ada orang yang begitu berani menjadi gembala sebuah gereja besar dan menjadi pengajar, padahal orang tersebut tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marnaek.wordpress.com&amp;blog=2534102&amp;post=9&amp;subd=marnaek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&amp;gt;     Normal   0                         MicrosoftInternetExplorer4   &amp;lt;![endif]--><!--[if !mso]&amp;gt;  st1\:*{behavior:url(#ieooui) }  &amp;lt;![endif]--> <!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Book Antiqua"; 	panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --> <!--[if gte mso 10]&amp;gt;   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";}  &amp;lt;![endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';"><b>Oleh Pdt Mangapul Sagala</b></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Pentingkah belajar teologia? Jika penting, sejauh mana pentingnya? Cukup atau sangat penting? Jika sangat penting, mengapa ada sebagian orang yang meremehkannya? Barangkali tindakan meremehkan itu tidak eksplisit, namun gejalanya sebenarnya dapat kita lihat. Contohnya, ada orang yang begitu berani menjadi gembala sebuah gereja besar dan menjadi pengajar, padahal orang tersebut tidak memiliki latar belakang studi teologia! Di pihak lain, ada juga orang yang berani memberikan pernyataan-pernyataan yang bersifat teologis, padahal tidak memiliki latar belakang teologia. Atau, ada juga orang yang dengan berani menaruh gelar-gelar akademis, seperti STh/MDiv/MTh bahkan doktor di belakang atau di depan namanya, walau gelar itu tidak disertai studi teologia yang bertanggung jawab. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Dengan perkataan lain, yang diperlukannya adalah gelar dan pengakuan, bukan isi di balik gelar tersebut. Tentu saja, hal seperti itu dapat disebut penipuan, yang disadari atau tidak, sangat berbahaya. Itu merupakan tindakan menipu diri sendiri dan juga menipu orang lain yang mendengar khotbahnya atau membaca tulisannya.Pada waktu yang lalu, seorang pengkhotbah dengan suara yang sangat lantang dan dengan cara yang meyakinkan memberikan sebuah pernyataan melalui sebuah siaran radio Kristen. Dengan bahasa yang dicampur dengan bahasa Inggris, orang tersebut mengatakan: “Saya mau mengatakan kepada Anda sekalian bahwa untuk menjadi hamba Tuhan, Anda tidak perlu belajar teologia, menjadi STh, atau MTh, atau bahkan doktor sekalipun. Untuk apa? Banyak orang, semakin belajar teologia, semakin tidak percaya Alkitab. Semakin belajar tinggi-tinggi, semakin tidak beriman”. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Dia tidak berhenti di </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">sana</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">. Selanjutnya, untuk lebih meyakinkan pendengarnya, dia memberikan contoh Alkitab. “Perhatikan Rasul Petrus. Dia adalah orang biasa, seorang nelayan dari Galilea, ordinary person, and yet, God has used him wonderfully”.Saya tidak tahu bagaimana respons pembaca terhadap pernyataan tersebut di atas. Tapi yang jelas, kelihatannya, pengkhotbah tersebut tidak sendiri dalam memberikan pandangan yang demikian. Cukup banyak pengikutnya. Dalam kenyataan praktis, sebagaimana saya sebutkan di atas, cukup banyak pelayan atau pengkhotbah yang memiliki pandangan sejenis itu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Menurut saya, pernyataan tersebut di atas ada benarnya, tapi tidak sepenuhnya benar. Barangkali, kita juga mengamati fakta adanya orang-orang yang semakin belajar teologia tinggi-tinggi, bukan semakin mencintai Tuhan dan Alkitab, sebaliknya semakin liberal.<br />
Mereka meragukan dan menolak pernyataan-pernyataan Alkitab yang oleh gereja diterima sebagai kanon atau ukuran, dan standar kebenaran. Kenyataan seperti itu membuat seorang pernah menyindir: “Hati-hati, seminary berubah menjadi cemetery (kuburan)”.<br />
Sebagai contoh, seorang rekan yang sedang belajar teologia menolak peristiwa terbelahnya Laut Teberau sebagai fakta sejarah. Dia bukan saja menolaknya, tapi juga menertawakan rekan-rekannya yang menerima hal itu sebagai fakta. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Namun entah mengapa, ketika dia kembali ke </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Indonesia</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">, dia kelihatannya mendadak menjadi orang beriman, percaya, dan menerima mukjizat-mukjizat di dalam Alkitab sebagai fakta sejarah.<br />
“Kok bisa? Terjadi perubahan yang sungguh-sungguhkah pada dirinya, ataukah dia sedang tidak jujur?” Barangkali itu reaksi Anda. Bisa juga karena perubahan, tapi bisa juga memang dia tidak jujur. Dalam pengamatan saya, salah satu yang menyedihkan dari teolog-teolog liberal adalah dalam hal ketidakjujuran. Itulah sebabnya jangan terkecoh.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Mereka seolah-olah mengimani apa yang mereka khotbahkan. Pernah mendengar pernyataan berikut ini? “Tillich the preacher and Tillich the theologian are two different things”. Maksudnya, Paul Tillich, salah seorang teolog hebat tersebut, jika berkhotbah di atas mimbar, kedengarannya sangat Alkitabiah, percaya dan mengimani pernyataan-pernyataan Alkitab. Namun jika membaca tulisan-tulisannya, waw!&#8230;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';"><br />
<b>Membangun Fondasi</b></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Adanya contoh negatif seperti di atas tidak menjadi alasan yang cukup kuat untuk menolak fakta pentingnya studi teologia yang benar dan sungguh-sungguh. Mengapa? Dalam kenyataannya, banyak ahli teologia di bawah kolong langit yang tetap beriman walau telah belajar teologia. Mereka semakin mencintai Tuhan Yesus, juga semakin percaya dan menghargai Alkitab.<br />
Sebutlah misalnya, Prof Graham Stanton, guru besar di Universitas </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Cambridge</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">, Inggris, yang sangat ternama itu. Dia juga pernah menjabat sebagai ketua Novum Testamentum Societas, yaitu sebuah perkumpulan para ahli Perjanjian Baru sedunia. Namun dalam beberapa kali pertemuan dan pengalaman penulis dibimbing olehnya, sangat terlihat sikap hormat dan kecintaannya kepada Alkitab. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Dan lagi, jika studi teologia tidak penting, mengapa gereja-gereja dan umat Allah membangun sekolah-sekolah teologia dengan berbagai fasilitasnya? Lalu, mengapa harus menyekolahkan dosen-dosen ke jenjang yang lebih tinggi, hingga ke tingkat doktor, bahkan post doctorate?<br />
Saya yakin, mereka melakukan semua itu demi memahami teologia yang semakin memadai. Dengan demikian, ibarat sebuah bangunan, mereka memiliki fondasi yang sangat kuat. Mereka tidak menjadi dosen yang mengajarkan hal yang aneh-aneh, yang hanya mengkhotbahkan visi atau penglihatan dari surga atau neraka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><i><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Penulis adalah alumnus </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Trinity</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">  </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Theological</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">  </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">College</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">, Singapura, melayani di Persekutuan Kristen Antar Universitas (Perkantas)</span></i><span style="font-family:'Book Antiqua';"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/marnaek.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/marnaek.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marnaek.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marnaek.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marnaek.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marnaek.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/marnaek.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/marnaek.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/marnaek.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/marnaek.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marnaek.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marnaek.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marnaek.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marnaek.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marnaek.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marnaek.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marnaek.wordpress.com&amp;blog=2534102&amp;post=9&amp;subd=marnaek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marnaek.wordpress.com/2008/02/21/studi-teologia-pentingkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077334d1984dd45de7892db6ec649b96?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Naek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bill Saragih</title>
		<link>http://marnaek.wordpress.com/2008/02/20/bill-saragih/</link>
		<comments>http://marnaek.wordpress.com/2008/02/20/bill-saragih/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Feb 2008 05:22:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marnaek</dc:creator>
				<category><![CDATA[BERITA BATAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marnaek.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Bill Saragih, selain pandai memainkan vibraphon juga piano, fluet &#38; tenor saksophon. ia pernah tampil bersama Lionel hampton dan ikut jazz workshop di jerman. kini ia &#38; istrinya tinggal di australia.SIAPA yang mau main dengan saya?” tanya Lionel Hampton. Tak ada yang beringsut dari kursinya — kecuali seorang yang langsung naik panggung sambil menantang: “Saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marnaek.wordpress.com&amp;blog=2534102&amp;post=5&amp;subd=marnaek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="post-content"><b>Bill Saragih</b>, selain pandai memainkan vibraphon juga piano, fluet &amp; tenor saksophon. ia pernah tampil bersama Lionel hampton dan ikut jazz workshop di jerman. kini ia &amp; istrinya tinggal di australia.SIAPA yang mau main dengan saya?” tanya Lionel Hampton. Tak ada yang beringsut dari kursinya — kecuali seorang yang langsung naik panggung sambil menantang: “Saya akan ambil oper vibraphon anda”. Dia pun mainlah, sementara Lionel Hampton sesekali mengetuk piano dan selebihnya menonton permainannya.Jelas ia tidak sebaik Hampton. Tapi keberaniannya ber jam session dalam acara konser khusus Lionel Hampton di hadapan musisi kota Bangkok, lima tahun lalu merupakan potret diri seorang yang bernama Bill Amir Saragih.<span></span><br />
Bersaing dengan musisi Asia lain yang banyak mencari rizki di ibukota Muangthai ini. Bill tidak segan untuk pamer kelihaiannya — sekalipun berhadapan dengan raja vibraphon Lionel Hampton. Bahkan Hampton langsung mengatakan: “Anda calon raja”.Komentar Hampton bukan tanpa alasan. Bill yang di samping vibraphon juga dapat memainkan piano, fluet dan senor saksophon, sudah punya modal musik yang lumayan. Menjelang kabur nya ke luar negeri delapan tahun yang lalu, Bill bersama saudaranya Banner Saragih dan Joe Saragih, sempat memimpin Jazz Rider nya Hotel Indonesia.</p>
<p>Bahkan di sana Bill turut bernyanyi.Volume suaranya, seperti kata Tim Kantoso Danumihardja: kalau lagi serius mirip kombinasi Sammy Davis Jr dan Frank Sinatra.</p>
<p>Sementara permainan pianonya kecipratan cara Horace Silver, seperti juga misalnya Bubby Chen. Cuma Bill, menurut Tim Kantoso yang pernah bertindak sebagai adviser Jazz Rid: “Fingering tidak selincah Bubby Chen, tapi sangat kuat dalam akord”. Bersama Marihot Hutabarat almarhum, Bill sering mengisi jazz program, yang diselenggarakan USIS pada menjelang tahun enampuluhan.</p>
<p>Kemampuannya bermain saksophon, bukan asal tiup saja. Konon Tim Kantosolah yang mengusulkan agar Bill memilih saksophon. “Dengan instrumen itu, dinamika suaranya bisa ber-ekspresi lebih penuh”. Menjelang petualangannya di luar negeri, “hanya satu yang belum dilakukannya, yaitu mencetak kader”, kata Tim Kantoso. Barangkali tidak seperti yang sudah dilakukan Mus Mualim atau Jack Lesmana misalnya.</p>
<p>Restoran berputar. Dengan modal pengalaman yang lebih banyak -sempat mengikuti Jazz Workshop di Jerman -Bill dengan isteri Inggerisnya kini mencoba kelihaiannya di Australia. “Kalau orang kita sih di mana saja bisa cari makan”, kata Bill dengan logat Bataknya yang cukup medok, “meski di kampung sendiri susah cari nafkah”.</p>
<p>Keyakinannya yang tidak kecil’ tampak nya merupakan modal yang kuat untuk bersaing di negeri Whitlam itu. Bahkan Bill berhasil merebut tempat terhormat di kehidupan malam kota dagang Sydney.</p>
<p>Asal mulanya, seorang bekas pemain sepakbola BBSA–sebuah klub Persija &#8211; John Chong menjumpainya di salah sebuah restoran di Bangkok. Bill di tantang untuk mengadu nasib di Australia. “Saya memberanikan diri”, kata Bill, “meski setelah tiba selama 5 bulan jadi penganggur”.</p>
<p>Usahanya yang keras mengantarkan dia kepada kontraknya dengan Summit Restaurant, sebuah restoran berputar di puncak Australia Square pada tingkat ke 47 — gedung pencakar langit tertinggi di Sydney.</p>
<p>Rindunya kepada Indonesia dinyatakan melalui hasratnya untuk kembaii ke tanah airnya. setelah cukup bekal dari kontraknya yang sekarang. Dengan penghasilan $ 200 seminggu, secara materil Bill tergolong orang yang agak lumayan. Tapi barangkali itu pula yang menariknya kembali ke sana. Sebab Jakarta belum tentu bisa memberinya sebanyak itu.</p>
<p>Padahal kehadirannya bukan tidak diharapkan banyak. Paling tidak pada usianya yang kini 40, Bill Saragih masih akan memperkuat musisi pribumi. Diharapkan jazz akan kembali.</p>
<p>(Tempo Edisi.  18 Mei 1973)</p></div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/marnaek.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/marnaek.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marnaek.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marnaek.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marnaek.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marnaek.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/marnaek.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/marnaek.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/marnaek.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/marnaek.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marnaek.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marnaek.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marnaek.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marnaek.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marnaek.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marnaek.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marnaek.wordpress.com&amp;blog=2534102&amp;post=5&amp;subd=marnaek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marnaek.wordpress.com/2008/02/20/bill-saragih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077334d1984dd45de7892db6ec649b96?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Naek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERLINDUNGAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA UNTUK KEBEBASAN BERAGAMA DAN BERIBADAH</title>
		<link>http://marnaek.wordpress.com/2008/02/20/perlindungan-hukum-dan-hak-asasi-manusia-untuk-kebebasan-beragama-dan-beribadah/</link>
		<comments>http://marnaek.wordpress.com/2008/02/20/perlindungan-hukum-dan-hak-asasi-manusia-untuk-kebebasan-beragama-dan-beribadah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Feb 2008 05:15:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marnaek</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL AGAMA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marnaek.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Richard Daulay[1]     1.  Sumpah Presiden sebelum memangku jabatan berbunyi sbb: “Demi Allah, saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-undang Dasar dan menjalankan segala Undang-undang dan peraturannya dengan seluruh-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa.” (pasal 6 UUD 1945). Presiden adalah kepala pemerintahan yang bertanggungjawab menjalankan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marnaek.wordpress.com&amp;blog=2534102&amp;post=6&amp;subd=marnaek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&amp;gt;     Normal   0                         MicrosoftInternetExplorer4   &amp;lt;![endif]--><!--[if !mso]&amp;gt;  st1\:*{behavior:url(#ieooui) }  &amp;lt;![endif]--> <!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Tahoma; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:1627421319 -2147483648 8 0 66047 0;} @font-face 	{font-family:"Trebuchet MS"; 	panose-1:2 11 6 3 2 2 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText 	{mso-style-noshow:yes; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.MsoFootnoteReference 	{mso-style-noshow:yes; 	vertical-align:super;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --> <!--[if gte mso 10]&amp;gt;   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";}  &amp;lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:'Trebuchet MS';"><b>Richard Daulay<a href="#_ftn1" title="_ftnref1" name="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Trebuchet MS';">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></b></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:'Trebuchet MS';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:'Trebuchet MS';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-family:'Trebuchet MS';">1.<span>  </span>Sumpah Presiden sebelum memangku jabatan berbunyi sbb: <i>“Demi Allah, saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-undang Dasar dan menjalankan segala Undang-undang dan peraturannya dengan seluruh-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa.”</i> (pasal 6 UUD 1945). Presiden adalah kepala pemerintahan yang bertanggungjawab menjalankan UUD dan segala Undang-undang dan Peraturan turunannya (pasal 4 UUD 1945). Dalam Pembukaan UUD 1945 ditegaskan pula mengenai tugas pertama dan utama Pemerintah Negara </span><span style="font-family:'Trebuchet MS';">Indonesia</span><span style="font-family:'Trebuchet MS';"> ialah <i>“Melindungi segenap bangsa </i></span><i><span style="font-family:'Trebuchet MS';">Indonesia</span></i><i><span style="font-family:'Trebuchet MS';"> dan seluruh tumpah darah </span></i><i><span style="font-family:'Trebuchet MS';">Indonesia</span></i><i><span style="font-family:'Trebuchet MS';">.”</span></i><span style="font-family:'Trebuchet MS';"> Dua hal perlu digarisbawahi. Pertama <i>“melindungi segenap bangsa </i></span><i><span style="font-family:'Trebuchet MS';">Indonesia</span></i><i><span style="font-family:'Trebuchet MS';">” (to protect the people of </span></i><i><span style="font-family:'Trebuchet MS';">Indonesia</span></i><i><span style="font-family:'Trebuchet MS';">)</span></i><span style="font-family:'Trebuchet MS';">; dan <i>“melindungi seluruh tumpah darah </i></span><i><span style="font-family:'Trebuchet MS';">Indonesia</span></i><i><span style="font-family:'Trebuchet MS';">.” (to protect the </span></i><i><span style="font-family:'Trebuchet MS';">territory</span></i><i><span style="font-family:'Trebuchet MS';"> of </span></i><i><span style="font-family:'Trebuchet MS';">Indonesia</span></i><i><span style="font-family:'Trebuchet MS';">.”</span></i><span style="font-family:'Trebuchet MS';"> Kedua prinsip ini tidak boleh dibalik. Selama Orde Baru yang lebih cenderung dilindungi adalah “seluruh tumpah darah” (kedaulatan negara), tetapi cenderung mengabaikan yang pertama yaitu “melindungi segenap bangsa </span><span style="font-family:'Trebuchet MS';">Indonesia</span><span style="font-family:'Trebuchet MS';"> (kedaulatan manusia).”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-family:'Trebuchet MS';">2.<span>  </span>Untuk dapat menjalankan tugas melindungi ini Pemerintah diberikan ‘alat negara’ yaitu polisi dan tentara. Tugas melindungi manusia <i>(the people)</i> dipertanggungjawabkan kepada polisi, dan untuk melindungi kedaulatan negara <i>(the territory)</i> dipercayakan kepada tentara (TNI AD, </span><span style="font-family:'Trebuchet MS';">AL</span><span style="font-family:'Trebuchet MS';">, AU). Undang-undang memberikan hak monopoli kepada sebuah negara menggunakan kekerasan (polisi dan tentara) dalam rangka menjamin perlindungan kepada kedua hal di atas (perlindungan kepada rakyat dan perlindungan kepada tanah air). Negara harus mampu melarang, mencegah, menghukum setiap warga negara atau kelompok masyarakat manapun yang melakukan tindak kekerasan, karena hal itu adalah perbuatan melanggar hukum (criminal). Itulah ciri sebuah negara yang kuat yang berdaulat, negara demokratis yang berdasarkan hukum. Ternyata, dalam kehidupan sehari-hari, kita melihat betapa tuhas melindungi segenap bangsa (baca rakyat) ini masih jauh dari kenyataan. Sangat kasat mata bahwa polisi sering tidak berdaya menghadapi </span><span style="font-family:'Trebuchet MS';">massa</span><span style="font-family:'Trebuchet MS';"> yang beringas yang melakukan kekerasan terhadap kelompok agama tertentu. Dalam catatan PGI, selama pemerintahan SBY sudah 108 gereja dan atau rumah ibadah Kristen dan Katolik yang ditutup, dirusak dan dilarang dengan cara-cara kekerasan yang jelas-jelas melanggar UUD 1945 dan Undang-undang lainnya. Dari tahun ke tahun jumlah rumah ibadah (gereja) yang ditutup paksa terus meningkat. (Tahun 1945-1952=0; 1955-1964=2; 1965-1974=46; 1975-1984=89; 1986-1994=132; 1995-1997=105; 1997-2004=?; 2004-2007=108. Kalau orang Kristen (atau agama dan kepercayaan lainnya) dilarang oleh pemerintah (Camat, Bupati, Walkot dll) atau diusir atau diganggu oleh kelompok-kelompok agama tertentu, lalu pertanyaan kita ialah: negara macam apakah </span><span style="font-family:'Trebuchet MS';">Indonesia</span><span style="font-family:'Trebuchet MS';"> yang kita cintai ini? Apakah kita masih berani membangga-banggakan bahwa </span><span style="font-family:'Trebuchet MS';">Indonesia</span><span style="font-family:'Trebuchet MS';"> adalah negara demokrasi ketiga terbesar di dunia?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-family:'Trebuchet MS';">3.<span>  </span>Menurut analisa sementara (PGI) sekarang ini ada kelompok masyarakat yang tidak suka kalau bangsa ini maju, makmur, dan aman. Mereka mau negara ini terpuruk (rakyat miskin terus), tidak aman (investor tidak masuk), dan akhirnya negara gagal (fail sate). Kalau negara ini gagal, maka kelompok ini sudah siap dengan alternatif, yaitu sebuah Indonesia yang “lain”, yang berdasarkan Pancasila, yang tidak menerima demokrasi dan yang tidak menerima kemajemukan. Oleh karena itu yang perlu diminta kepada Presiden ialah, jangan pernah ragu-ragu menggunakan wewenang yang diberikan oleh rakyat kepadanya untuk menjalankan tugas dan tanggungjawabnya sebagai Presiden, sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945 dan sesuai dengan sumpah Presiden yang sudah diucapkannya. Presiden harus mampu memprakarsai sebuah “dialog” nasional, di mana semua komponen bangsa duduk bersama untuk memecahkan masalah kita bersama. Tahun 2008 adalah momentum penting untuk merajut dan meneguhkan ulang komitmen kebangsaan kita demi tegaknya NKRI sebagaimana dicetuskan Budi Utomo 100 tahun yang, dan diikrarkan para pemuda tahun 1928, Proklamasi Kemerdekaan 1945.*** </span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--><br />
<hr align="left" size="1" width="33%" />  <!--[endif]--></p>
<div>
<p class="MsoFootnoteText"><a href="#_ftnref1" title="_ftn1" name="_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Tahoma;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:Tahoma;"> Sekretaris Umum PGI</span></p>
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/marnaek.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/marnaek.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marnaek.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marnaek.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marnaek.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marnaek.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/marnaek.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/marnaek.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/marnaek.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/marnaek.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marnaek.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marnaek.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marnaek.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marnaek.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marnaek.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marnaek.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marnaek.wordpress.com&amp;blog=2534102&amp;post=6&amp;subd=marnaek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marnaek.wordpress.com/2008/02/20/perlindungan-hukum-dan-hak-asasi-manusia-untuk-kebebasan-beragama-dan-beribadah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077334d1984dd45de7892db6ec649b96?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Naek</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
